Sandang Titel Unicorn, Bukalapak akan Bangun ‘Pabrik’ R&D Di Bandung
January 15, 2018
Apa Keuntungan Jualan via Marketplace Dibandingkan Jualan Di Toko Online Sendiri
January 17, 2018

Jarang Dilirik, 6 Start Up yang Fokus Menggarap Bidang Pertanian

Bisnis start up selama ini diketahui hanya fokus pada bidang transportasi, online travel agent (OTA), e-commerce dan marketplace, serta financial technology (fintech). Setiap tahun, selalu saja ada pemain baru dalam bidang-bidang tersebut yang bermunculan. Namun dibalik ketenaran lima bidang Start Up, ada Start Up yang sering dianggap sebelah mata padahal perannya cukup baik. Yakni Start Up yang fokus di bidang pertanian.

Jika kita ingin membangun bisnis dengan melihat jati diri bangsa Indonesia, bidang pertanian tidak boleh dilupakan. Indonesia merupakan negara agraris, dan potensi bisnis di bidang pertanian sangatlah besar. Namun sebagian masyarakat memandang bisnis pertanian bukanlah bisnis yang cukup menghasilkan, bahkan dianggap masa depannya tidak jelas.

Tetapi hal itu tidak dipandang secara sebelah mata oleh beberapa pihak yang melihat ada prospek bisnis yang besar di bidang pertanian. Buktinya, sudah cukup banyak Start Up yang mulai melirik bidang pertanian untuk masuk ke dalam ranah teknologi. Berikut beberapa Start Up yang fokus pada pertanian di Indonesia.

Agromaret

Nama Agromaret, mungkin tidak setenar Bukalapak, Tokopedia, Shopee, Blibli, Lazada ataupun Mataharimall.com. Padahal, Agromaret sudah berkiprah di bisnis Start Up marketplace pertanian selama sembilan tahun. Tidak hanya sebagai marketplace, Agromaret pun menjadi salah satu komunitas online di bidang pertanian.

Menurut pendiri Agromaret, Setia Darmawan Afandi kehadiran Agromaret untuk melayani penjualan, pembelian, permintaan, dan kerjasama hampir semua barang pertanian. Bahkan jumlah Agropreneur (sebutan pengusaha di bidang pertanian) sudah mencapai angka 120 ribu orang.

“Kami lahir dari permasalahan para petani yang sulit dalam memasarkan produk pertaniannya. Bahkan sering sekali harga pasar dipermainkan oleh para tengkulak, hal tersebut membuat masyarakat malas untuk belanja produk pertanian. Di era canggih seperti saat ini, website adalah salah satu inovasi yang bisa kita pakai untuk membantu petani memasarkan produknya sendiri secara online,” ungkap pria yang diakrab Fandi, seperti yang dikutip dari Kumparan.com.

Start Up Pertanian di Indonesia

Eragano

Kini, jika Anda sedang butuh peralatan pertanian Anda tidak perlu datang ke desa-desa atau ke toko khusus alat pertanian untuk mendapatkannya. Karena saat ini sudah ada Start Up yang fokus pada bidang tersebut, salah satunya Eragano.

Awalnya, Eragano berdiri pada 2015 untuk membantu para petani dalam menjual produk pertanian. Terutama produk pertanian organik, namun melihat banyaknya masalah di bidang pertanian membuat Eragano melebarkan sayap untuk menjadi Start Up yang memberikan solusi bagi para petani melalui aplikasi di smartphone. Bahkan Eragano membuat sebuah portal media agar para petani bisa mengetahui mengenai informasi yang up to date mengenai dunia pertanian.

Seperti menjual perlengkapan pertanian, menjual hasil panen, sistem pengelolaan sawah, dan memberikan dana pinjaman kepada para petani di Indonesia. Eragano didirikan oleh dua orang yakni Stephanie Jesselyn dan Aris Hendrawan. Meskipun nama mereka tidak tenar, tetapi mereka berdua bukanlah orang lama di Start Up.

Stephanie Jasselyn merupakan mantan Bussiness Intelligence Specialist Zalora Indonesia. Sedangkan Aris pernah menjadi bagian dari Antar.id dan Wifimu. Stephanie mengaku pengalamannya di Zalora secara tidak langsung sangat berguna diterapkan ke Eragano.

PanenId

Selain Agromarket.com salah satu marketplace yang melakukan direct trading adalah PanenId. PanenId yakni sebuah platform berbasis aplikasi yang menjual produk pertanian secara langsung ke konsumennya.

Konsumen yang diincar oleh Panen.Id bukan kepada end user, namun mengincar restoran, hotel, dan catering. Cara PanenId memasarkan produk pertanian untuk memutus rantai distribusi. Biasanya distribusi pertanian dimulai dari petani menjual produk pertanian ke tengkulak, lalu tengkulak menjual kembali ke konsumen. Para tengkulak sering memasang harga cukup tinggi dalam menjual ke distributor, padahal mereka membeli dari petani dengan harga yang murah.

Kehadiran PanenId bisa meningkatkan harga jual produk pertanian dan mensejahterahkan petani dengan memutus rantai distribusi. Melalui platform PanenId, para petani bisa menjual langsung produk yang diminta oleh konsumen, meskipun harga yang di pasang sudah ditentukan oleh pihak Panen.Id.

Menurut penuturan Richard Siswanto, Bussiness Development PanenId seperti dikutip dari Viva.co.id, harga yang ditentukan oleh pihaknya lebih mahal dan lebih menguntungkan dibandingkan petani menjualnya secara langsung ke tengkulak.

Saat ini, petani yang sudah bekerjasama sekitar 120 petani yang terdapat di daerah Petang dan Pancasari, Bali. Serta sudah ada sekitar 10 hotel yang sudah bekerjasama dengan pihak PanenId.

Kecipir

Kecipir saat ini bukan sekedar nama sayuran, tetapi nama kecipir sudah menjadi sebuah Start Up yang menjual produk pertanian organik. Sebelum bernama Kecipir, Start Up yang satu ini memiliki nama LOFMart. Namun sang founder dan juga CEO, Tantyo Bangun menganggap nama tersebut tidak mudah diingat oleh masyarakat, dan akhirnya dia merubah nama LOFMart menjadi Kecipir yang dianggap lebih ke-Indonesiaan.

Saat ini Kecipir mengklaim sudah memiliki 40 petani dengan 1000 konsumen. Dengan melihat banyak masyarakat yang memiliki keinginan untuk hidup sehat, maka Tantyo sangat mudah dalam penetrasi pasar dan mengedukasi mengenai manfaat sayuran organik kepada petani dan masyarakat.

Ia pun memang tidak terlalu gencar dalam membranding Kecipir, seperti Start Up aplikasi lain seperti Go-Jek dan e-Commerce. Hal tersebut dilakukan agar menjaga keseimbangan distribusi antara produk dengan pertanian.

Apa keunggulan Kecipir ?

Banyak masyarakat yang menggangap kalau sayuran organik harganya cukup mahal dan hanya bisa didapatkan di supermarket atau swalayan. Namun, jika masyarakat membeli produk sayuran organik di Kecipir, mereka akan harga yang lebih murah serta diperoleh dari perkebunan langsung.

LimaKilo

Start Up LimaKilo memiliki tujuan untuk menghilangkan peran tengkulak dalam distribusi pangan dan produk pertanian. Sehingga petani bisa langsung menjual produk mereka ke konsumen dengan harga jual yang tidak terlalu murah. Karena LimaKilo ingin menjawab masalah ketidakstabilan harga pangan yang disebabkan banyaknya tengkulak yang bermain dengan membeli bahan pangan secara murah dari petani, dan menjualnya cukup mahal ke konsumen.

Awalnya LimaKilo hanya berfokus untuk menjual komoditas bawang merah untuk melayani wilayah Ibukota yang membutuhkan sekitar 700 hingga 1000 ton dalam satu bulan. Saat ini, LimaKilo sudah memiliki mitra petani sebanyak 15 yang tersebar di Brebes, Bandung, dan Yogyakarta.

Membangun R&D

Co-Founder LimaKilo, Walesa Danto mengatakan Start Up yang sudah berdiri sejak Februari 2016 ini sedang fokus untuk membangun kebun R&D yang terintegrasi dengan sistem digital LimaKilo. Pembangunan R&D ini bertujuan agar informasi data dan pengelolaan penanaman dapat terhubung secara digital.

Karena, menurut Danesa, saat ini data informasi mengenai agrikultur masih sangat minim informasi. Informasi yang diperoleh hanya jumlah panen beserta harga pasar saja.

Para co-Founder di LimaKilo berharap Start Up Technology yang mereka bangun bisa menjadi social entreprise seiring dengan perkembangannya untuk memberikan manfaat kepada para petani. Apa lagi Start Up yang mereka dirikan ini sangat dekat dengan petani, dan para co-founder berasal dari wilayah yang dekat dengan petani.

Habibi Garden

Penerapan Internet of Things (IoT) sudah merambah ke segala aspek kehidupan, salah satunya di bidang pertanian. Kini, Indonesia memiliki Start Up yang fokus untuk menerapkan sistem IoT di bidang pertanian, Start Up tersebut bernama Habibi Garden.

Habibi Garden adalah Start Up yang memberikan data secara real-time mengenai kondisi sebuah lahan pertanian dan perkebunan yang bisa di update oleh si pemilik lahan ataupun si penggarap lahan (petani).

Habibi Garden telah menciptakan sebuah alat yang mereka namankan dengan Habibi Sensor, alat ini ditancapkan pada lahan pertanian dan perkebunan, dan petani bisa mengetahui kondisi lahan mereka. Dengan begitu, petani bisa melakukan efisiensi dan optimasi lahan.

Menurut sang CTO Irsan Rajimin alat yang ditancapkan di lahan akan membaca enam parameter seperti pH tanah, nutrisi, kelembaban tanah, hingga kondisi lingkungan udara seperti apa, dan apakah ideal untuk tanaman tertentu. Kemudian alat tersebut akan mengirimkan sebuah report ke aplikasi Habibi Garden. Dengan begitu petani bisa mengetahui lahannya membutuhkan pupuk atau air.

Aplikasi Habibi Garden sudah diuji cobakan pada beberapa petani tomat di Cipanas dan ternyata hal tersebut membuat petani mengalami lonjakan panen yang biasanya 6000 kg per lahan, kini menjadi 7000 kg per lahan setelah menggunakan aplikasi Habibi Garden.

Dengan mengetahui Start Up bidang pertanian, kita akhirnya mengetahui ternyata Start Up itu bukan hanya e-Commerce dan Marketplace, OTA, Fintech, dan bidang transportasi. Tetapi diluar sana ternyata ada Start Up-Start Up yang fokus pada bidang pertanian yang sering dianggap sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat. Padahal bidang pertanian memiliki peran besar bagi kehidupan kita, terutama masyarakat Indonesia.

Bagi kalian yang ingin mencoba bisnis pertanian, mungkin Start Up-Start Up diatas bisa membantu kalian dalam membangun bisnis pertanian. Baik itu jika Anda sudah memiliki lahan tapi bingung ingin dikelola, maupun jika Anda ingin mengelola bisnis yang berkaitan dengan pertanian maupun peternakan maka beberapa Start Up diatas bisa menjadi partner bisnis Anda.

Memiliki Waktu Bersama Keluarga

Iskandar Rumi
Iskandar Rumi
Mantan wartawan yang hijrah menjadi SEO writer & content writer